Menjalani Operasi Tulang Belakang (Laminectomy) – Sebuah Testimoni Penderita Chiari-Malformation Type I

Oktober 29, 2010

Menjalani Operasi Tulang Belakang (Laminectomy) – Sebuah Testimoni Penderita Chiari-Malformation Type I

9 September 2010 saya menjalani pemeriksaan MRI di RS Boromeus Bandung, dokter yang menganalisa hasil MRI saya adalah dr. Tan Siauw Koan SpRad, salah seorang yang hebat dibidangnya.  Saking sibuknya, dokter yang satu ini tidak bisa lagi melayani pasien untuk konsultasi.

15 September 2010, ambil hasil MRI dan konsul ke dr. Bing Haryono SpS di RS Immanuel Bandung, dari situ baru tahu kalau saya mengidap chiari-malformation type I  yang disertai shyringomyelia.  Kemudian saya dirujuk ke dokter spesialis bedah orthopedi spinal, tapi saya tidak menemuinya.

Mulai saat itu saya berusaha untuk mengumpulkan keberanian menghadapi tindakan operasi / surgery dan mencari semua informasi dari internet yang berkaitan dengan chiari-malformation type I.  Dari beberapa literatur yang saya baca, semuanya mengarahkan bahwa treatment untuk kasus ini adalah dengan melakukan tindakan surgery oleh neuro-surgereon.  Makanya saya tidak mendatangi dokter spesialis bedah orthopedi spinal, seperti yang di rekomendasikan oleh dokter saraf saya itu.

*) Gambar diambil dari http://www.mayoclinic.com

Apa itu chiari-malformation type I ?   Chiari-malformation type I adalah semacam kalainan bawaan, dimana cereberal-tonsil (bagian dari otak kecil) turun di bawah foramen-magnum (lubang kecil di bagian bawah tulang tengkorak, tempat keluarnya spinal-cord).  Semacam herniasi otak kecil di saluran sumsum tulang belakang, sehingga menimbulkan tekanan di sumsum atau spinal-cord tersebut.  Hal inilah yang menyebabkan timbulnya shyring di bagian lain sumsum tulang belakang.

27 September 2010, konsultasi ke dokter spesialis saraf di RSPAD Gatot Subroto Jakarta (dr. Tugas SpS), diberi tahu apa itu shyringomyelia dan kenapa hal ini bisa terjadi.

28 September 2010, konsultasi ke dokter spesialis bedah saraf di RS St. Boromeus Bandung (dr. Beny Atmaja SpBS), diberi tahu treatment yang akan ditempuh, penjelasan mengenai efek-efek shyringomyelia.  Ternyata dalam sumsum tulang belakang banyak urat saraf yang bersliweran, sehingga timbulnya shyring dapat mengganggu urat-urat saraf tersebut.  Dan bila pada satu bagian shyring tersebut membesar (sampai ukuran diameternya sama dengan diameter sum-sum tulang belakang), resikonya bisa menimbulkan kelumpuhan.  Kerusakan saraf yang disebabkan oleh shyring bersifat permanen dan berjalan sangat lambat, semoga shyring yang ada di sumsum tulang belakang saya belum sampai merusak sistem saraf di tubuh saya.

*) Gambar diambil dari http://www.mayoclinic.com

2 Oktober 2010, konsultasi dengan dokter spesialis bedah saraf RSPAD Gatot Subroto (dr. Djoko Riadi SpBS), treatment yang akan diambil oleh dokter ini sama persis dengan apa yang akan dilakukan oleh dr. Beny AW SpBS.

5 Oktober 2010, saya kembali ke dr. Beny AW SpBS, saya putuskan untuk melakukan tindakan surgery dengan beliau di RS St. Borromeus.  Saat itu saya buat jadwal untuk tindakan surgery seminggu kemudian, perkiraan saya sekitar tanggal 13 Oktober 2010.  Dan beliau sepakat.

Mulai hari itu, sampai tanggal 11 Oktober 2010, saya menyelesaikan semua administrasi di kantor agar tindakan operasi dapat dilakukan di Bandung, tepatnya di RS St. Borromeus.  Di tanggal 11 itu pula, saya sudah mulai ’booking kamar’ di Borromeus.  Namun saya baru bisa masuk kamar tanggal 12 Oktober 2010 jam 14.30.  Seorang yang nampak sehat dan ’gagah perkasa’ masuk ke ruang opname😀 untuk menjalani operasi tulang belakang, sesuatu yang tidak pernah terbayangkan oleh saya.

Karena sudah terlalu sore dan saya baru bisa bertemu dengan dr. Beny SpBS pada pukul 23.00, akhirnya kami sepakati tindakan surgery diundur satu hari menjadi tanggal 14 Oktober 2010 jam 13.00 WIB.  Tanggal 13 Oktober 2010 digunakan untuk pemeriksaan dan persiapan pra-surgery.   Untuk penanganan pra dan pasca operasi, saya diminta untuk menentukan dokter spesialis penyakit dalam, dan saya memilih dr. H. Edwin Setiabudhi SpD.

Akhinya, tibalah saat yang sudah kami sepakati.  14 Oktober 2010 jam 13.00 saya mulai didorong ke ruang operasi.  Secara singkat, operasi yang akan saya jalani adalah posterior-fossa-craniectomy, cervical laminectomy dan menambal dura (selaput pelindung cairan otak, yaitu pelindung otak yang paling luar sebelum tulang tengkorak).  Secara keseluruhan, dapat disebut ’decompresi’ atau kalau dokter lain menyebutnya laminectomy yang bertujuan untuk mengurangi tekanan cereberal-tonsil ke arah spinal-cord.  Menyebut laminectomy, ternyata sebuah operasi besar yang sangat beresiko.  Padahal saya beranggapan bahwa operasi ini tidak akan berisiko, nyatanya justru lain.  Sehari sebelum masuk opname, salah seorang dokter perusahaan mengingatkan aku, apakah sudah benar-benar dipikirkan ?  Karena resiko yang akan dihadapi adalah kegagalan fungsi / sistem pernafasan, akibat terjadinya trauma di sekitar cervical (C-1).  Kalau sistem pernafasan sudah berhenti…berarti sudah tidak jauh dari yang namanya kematian. Hi… makin tambah takut.  Tindakan operasi baru dilakukan sekitar jam 14.30, namun jam 14.00 saya sudah tidak ingat apa-apa lagi, lha wong sudah dibius total.  Segala doa saya panjatkan sebelum operasi, agar oprasi berjalan lancar dan sukses dan yang terpenting saya bisa sadar kembali dari ketidaksadaran saya saat operasi.  Sekitar jam 17.00 operasi selesai, dokter sudah menghubungi keluarga saya yang menuggu di luar ruang operasi.  Tapi saya masih belum sadarkan diri.  Begitu saya sadar, tim di ruang operasi memberitahu, kalau operasi sudah selesai, dan saya panjatkan ’doa bangun tidur paling berarti dalam hidup ku’.  Dokter mengatakan bahwa sekitar 30 menit lagi saya akan dipindahkan ke ruang perawatan.  Namun hampir 3 jam saya belum juga dipindahkan ke dari ruang operasi, malah harus menjalani observasi dulu di ruang khusus.  Keluarga bertambah shock mendengar hal ini.  Saya keluar dari ruang operasi sekitar pukul 19.45 dan di-observasi di ruangan stroke unit.  Observasi bisa berlangsung satu atau dua hari, tergantung kondisi tubuh saya.

Keesokan harinya, 15 Oktober 2010 pagi, dokter penyakit dalam saya datang untuk visite, beliau menyalami saya sambil mengatakan : “Hebat…Mantap…!”  Saya belum mengerti maksud perkataannya tersebut, namun beliau menyatakan bahwa masa observasi saya sudah lewat, saya bisa segera dipindahkan ke ruang perawatan.  Tidak lama kemudian dokter bedah saraf saya juga datang untuk visite, saya sampaikan terima kasih yang tak terhingga, sejujurnya inilah ungkapan terima kasih paling tulus yang pernah saya ucapkan (selain kepada kedua orang tua ku).  Experience dan profesionalitas dr. Beny lah yang membuat saya bisa menjalani operasi dengan lancar, sukses dan tentunya saya masih bisa selamat dari resiko berat operasi yang telah saya jalani ini.  Bebarapa kejadian penting yang bisa saya ingat selama di ruang observasi adalah, saat alarm berbunyi yang menandakan bahwa saya tidak menghirup nafas untuk jangka waktu yang cukup lama (minimal 10 kali tarikan nafas dalam satu menit).  Hal ini terjadi sebanyak tiga kali, dan yang terakhir saya tidak menghirup nafas sekitar 20 detik.  Akhirnya sore itu saya pindah kembali ke ruang perawatan.

Tanggal 16 Oktober 2010 pagi, dokter penyakit dalam saya visite ke ruang perawatan.  Kali ini beliau cerita, kenapa saya harus melalui masa observasi pasca operasi.  Ternyata beliau lah yang menginginkan hal itu.  Sebab beliau punya pengalaman buruk, beberapa tahun lalu rekannya menjalani operasi yang hampir sama dengan yang saya jalani.  Rekannya tersebut menjalani operasi laminectomy, setelah operasinya dinyatakan selesai, ternyata terjadi pendarahan dan hal ini tidak diketahui, hingga akhirnya meninggal dunia.  Itulah sebabnya saya harus menjalani masa observasi, ditambah lagi dokter bedah saraf saya tidak meminta persedian darah selama operasi dan setelah operasi.  Dokter penyakit dalam saya, agak riskan dengan hal ini, walaupun beliau cukup kagum dengan profesionalitas dokter bedah saraf saya.  Dan ungkapan “Hebat … Mantap…!” yang disampaikannya hari kemarin, sepertinya beliau tujukan untuk dokter bedah saraf saya itu.  Beliau menambahkan lagi, bahwa selain beresiko terjadinya pendarahan, beliau juga sepakat bahwa operasi ini bisa menyebabkan kegagalan sistem pernafasan dan juga jantung.  In case terjadi trauma, bisa dibayangin kalau yang terjadi kegagalan sistem pernafasan atau jantung tiba-tiba berhenti…  Semua berujung pada kematian…  Dan beruntung, saya bisa melalui semuanya dengan selamat.  Dan semoga tidak akan timbul resiko atau komplikasi lain akibat dari operasi yang saya jalani ini, di masa yang akan datang.

Aku menjalani perawatan di rumah sakit sampai dengan hari ke-7 pasca operasi, setelah semua jahitan dilepas dari luka bekas operasi.  Saat ini saya masih menjalani masa pemulihan di rumah, rencananya tanggal 1 Nopember 2010 nanti saya akan memulai aktivitas saya kembali untuk bekerja di kantor.  Walaupun saat ini rasanya saya belum 100 % pulih, karena masih terasa sakit di leher saya bila terlalu lama tegak (duduk atau pub berdiri), namun saya akan mencoba untuk memaksimalkan sisa waktu istirahat saya agar saat memulai bekerja nanti, saya sudah benar-benar fit.

Dari hasil yang saya peroleh dalam kasus saya ini, ada beberapa point penting yang ingin saya sampaikan kepada orang lain, terutama bagi sesama penderita chiari-malformation type I :

  1. Saya merasa beruntung karena hasil MRI saya dibaca oleh dr. Tan Siauw Koan SpRad.  Kasus yang saya alami adalah kasus yang sangat langka, dimana peluang terjadinya antara 1 : 1000 s/d 1 : 5000.  Namun beliau dapat memberikan diagnosa yang tepat dan rinci mengenai kasus yang saya alami, lengkap dengan ukuran herniasi dan besarnya diameter shyring yang ada di sumsum tulang belakang saya.
  2. Saya juga pantas merasa beruntung karena memilih dr. Beny Atmaja W. SpBS.  Profesionalitas dan experience beliau dalam menangani kasus chiari-malformation type I, telah membuat operasi yang saya jalani bisa berjalan dengan lancar dan sukses.

Pemilihan dokter yang tepat, akan sangat menentukan hasil diagnose dan treatment dari kasus / penyakit yang kita derita.

Semakin maju ilmu kedokteran, akan semakin meningkatkan kualitas hidup umat manusia.  Karena untuk itulah tujuan ilmu kedokteran…

Dan setiap hari saya terbangun dari tidur, selalu saya berharap agar kualitas hidup saya menjadi semakin baik….  Amien…!

Terakhir, saya bukanlah seorang dokter, apabila ada istilah atau persepsi saya yang keliru tentang kasus yang saya alami ini, mohon dimaafkan.  Dan semoga testimoni ini berguna buat saya dan orang lain, yang kemungkinan menghadapi kasus chiari-malformation type I.

Tidak lupa ucapan terima kasih saya kepada kedua orang tua dan keluarga saya, semua dokter yang terlibat dalam menangani kasus saya, dan semua rekan / handai taulan yang telah memberikan doa dan dukungan kepada saya sehingga saya bisa melewati semua yang saya alami dengan lancar dan sukses.  Segala puji saya panjatkan kehadirat Allah swt, atas segala limpahan karunia, rahmat dan hidayah-Nya kepada kami sekeluarga.

Dalam tulisan ini saya memuat beberapa nama dokter atau rumah sakit yang menangani kasus saya, tidak ada maksud apa pun dari semua tulisan ini, selain saya ingin berbagi dengan orang lain yang mungkin mengalami kasus yang sama dengan yang saya alami.  Karena saat saya mencari informasi mengenai kasus chiari-malformation ini, sangat jarang testimony yang ditulis oleh orang Indonesia. Dan apabila ada yang tidak berkenan dengan tulisan ini, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya.  Sekali lagi, semoga berguna dan bermanfaat.

Februari 4, 2008

Hidup seperti lingkaran, kadang di atas, kadang di bawah, dan biasanya hanya memiliki satu radius maksimal.  Maksudnya, seberapapun kita terlempar, kita tidak akan melewati besar radius maksimal itu.  Bukankan kadar rejeki setiap manusia sudah ditetapkan oleh yang punya alam ini (Gusti Allah).

Perjalan hidup, dari mulai limit t –> 0 sampai kita dipanggil oleh yang kuasa, biasanya menyerupai fungsi normal.  Dalam ilmu statistik fungsi ini sangat terkenal, karena hampir semua perhitungannya menggunakan pendekatan distribusi normal.  Dari bawah naik menuju puncak lalu menurun seiring dengan dengan berjalannya waktu, atau sebaliknya dari atas turun sampai ke dasar lembah, kemudian naik lagi.  Tapi tidak jarang juga kita berada pada kondisi stagnan dalam suatu periode waktu.

Adakah dari setiap penggalan waktu yang kita lewati dalam hidup ini bisa memberikan makna bagi diri kita atau orang lain ?  Semestinya kita bisa mengintrospeksi diri dalam setiap periode tertentu.  Hudup akan lebih berarti apabila setiap waktu bisa memiliki makna, setidaknya bagi diri kita sendiri.  Adakalanya perlu kita perlu menyusun sebuah rencana untuk bisa melewati suatu penggalan waktu, agar dalam penggalan waktu tersebut hidup kita bisa memiliki makna seperti yang kita inginkan.  Betapa indahnya hidup kita, sekiranya setiap waktu yang kita lewati dapat memiliki makna dan warna yang terang bagi diri sendiri atau orang banyak.

Sekali kita melakukan seuatu pekerjaan yang bisa memberikan kepuasan lahir atau pun bathin, maka tidak akan sulit bagi kita untuk mengulangi pekerjaan tersebut.  Bahkan tidak jarang kita akan ‘ketagihan’ untuk melakukan pekerjaan tersebut. 

Mari bikin hidup penuh warna & penuh makna.

 Salam,

Tahun Baru 2008

Januari 1, 2008

Pas 1 Januari 2008 jam 00:00, duar………..puiiiiiitttttt……….juedeeeeeeeeerrrrrrrrr………mak………..pyarrrrrrrrr.  Meriah, semarak, semua gembira……………

Sementara yang lain……….lapar………kedinginan……….di tenda-tenda dan tempat pengungsian korban banjir & tanah longsor.

Dari pada kita membakar duit (baca : petasan atau kembang api) yang nilainya mencapai puluhan, ratusan, bahkan jutaan rupiah………lebih baik uang-nya kita salurkan untuk membantu saudara kita yang lebih membutuhkan, contoh para korban bencana banjir & tanah longsor, yang sedang musim  di sekitar kita………….

 NB : Tidak bermaksud menggurui, cuma sekedar ingin mengeluarkan unek-unek.

Hello world!

Desember 12, 2007

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!